5 Tips Sukses Bekerja Pertama Kali Menjadi Pustakawan

Pustakawan Mendunia pertama kali berkunjung ke Perpustakaan SD di Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah
Perpustakaan SD di Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah

Mau tahu lima (5) tips sukses bekerja pertama kali menjadi pustakawan? Bingung karena ini pertama kalinya Pegiat Literasi harus bekerja menjadi pustakawan? Jangan khawatir, Pegiat Literasi tidak sendirian.

Sudah dua kali ini Pustakawan Mendunia menerima telepon dari sahabat-sahabat yang tercebur, mendadak bekerja menjadi pengelola perpustakaan. Ini pertama kalinya mereka bekerja di perpustakaan tapi belum mengetahui apa sih yang harus dipersiapkan dan dilakukan?

Secara prinsip dasar atau filosofi mengelola perpustakaan, Pegiat Literasi dapat membaca post Pustakawan Mendunia sebelumnya di Belajar Mengelola Perpustakaan Zaman Now.

Berikut lima (5) tips sukses bekerja pertama kali menjadi pustakawan:

  1. Mengenali Jenis Perpustakaan Tempat bekerja
  2. Mempelajari Standar Nasional Perpustakaan
  3. Pertemuan dengan Boss / Atasan / Pemangku Kepentingan
  4. Memiliki Semangat untuk Belajar Mengelola Perpustakaan
  5. Menjadi Pustakawan yang Punya Hati

1. Kenali Jenis Perpustakaan Tempat Bekerja

Ada banyak kemungkinan siapa saja bisa ‘ditembak’, dan mau tidak mau harus menerima keadaan / tantangan, “Baiklah saya akan bekerja menjadi pustakawan / pengelola perpustakaan.” Jangan putus asa, kita semua bisa belajar, bahkan dari nol sekalipun.

Pertama, Pegiat Literasi harus bisa mengenali saat ini bekerja di perpustakaan jenis apa. Apakah Perpustakaan Umum (berada di bawah koordinasi Perpustakaan Daerah / Propinsi), Perpustakaan Komunitas (dari dan untuk masyarakat, dijalankan oleh relawan), Perpustakaan Desa (biaya atau dana pengelolaan dari Dana Desa), Perpustakaan Sekolah (SD/SMP/SMA), Perpustakaan Perguruan Tinggi, atau Perpustakaan Khusus (di bawah lembaga/organisasi induk).

Jika Pegiat Literasi sudah dapat mengenali di unit mana, selanjutnya pelajari apa saja yang harus disiapkan untuk memajukan unit kerja kita. Karena cakupan tulisan ini sangat luas, Pustakawan Mendunia akan membahas untuk pegiat literasi yang bekerja di dunia pendidikan, yaitu di Sekolah Dasar (SD) / Madrasah Ibtidaiyah, Sekolah Menegah Pertama / Madrasah Tsanawiyah, dan Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah dan perguruan tinggi.

2. Mempelajari Standar Nasional Perpustakaan (SNP)

Pemerintah, melalui Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) memberikan suatu panduan sebuah standar minimal (paling sedikit) yang harus dipersiapkan sebuah institusi pendidikan di Indonesia.

PNRI mengadopsi standar ini dari The International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA).

Berikut adalah contoh standar minimal untuk perpustakaan perguruan tinggi di Standar Nasional Perpustakaan (SNP):

  1. Koleksi
    • Jenis dan jumlah koleksi
    • Penambahan koleksi
    • Koleksi khusus
    • Bahan perpustakaan referensi
    • Pengorganisasi bahan perpustakaan
    • Cacah ulang
    • Penyiangan
    • Pelestarian bahan perpustakaan
  2. Sarana dan prasarana
    • Gedung / luasan ruang
    • Ruang (komposisi ruang, pengaturan kondisi ruangan,
  3. Sarana
  4. Lokasi perpustakaan
  5. Layanan
    • Jam buka perpustakaan
    • Jenis layanan perpustakaan
    • Laporan kegiatan (statistik)
  6. Tenaga
    • Jumlah tenaga
    • Kualifikasi kepala perpustakaan
    • Kualifikasi tenaga perpustakaan
  7. Penyelenggaraan
    • Penyelenggaraan dan pendirian perpustakaan
    • Nomor Pokok Perpustakaan
    • Struktur organisasi
    • Program kerja
  8. Pengelolaan
    • Visi perpustakaan
    • Misi perpustakaan
    • Tujuan perpustakaan
    • Kebijakan perpustakaan
    • Fungsi perpustakaan perguruan tinggi
    • Anggaran
  9. Teknologi informasi dan komunikasi

Secara detail perihal kesembilan aturan ini dapat didownload dan dibaca di bawah ini.

3. Pertemuan dengan Boss / Pemangku Kepentingan

Sesudah membaca dan mempelajari SNP di atas, tentu butuh follow up atau tindak lanjut, mau diapakan perpustakaan ini? Saatnya Pegiat Literasi melaporkan kepada boss atau atasan dan memperlihatkan dokumen SNP.

Kenapa dokumen ini penting? Jika kita memulai perpustakaan dari nol dan harus memenuhi standar minimal ini, perlukan dana / budget. Siapa yang mengusahakan ini jika bukan kita yang harus bisa menyampaikan kebutuhan perpustakaan (untuk siswa/mahasiswa) kepada atasan kita.

Termasuk juga di antaranya membahas:

  1. Menentukan tempat / lokasi perpustakaan
  2. Budget belanja buku (fiksi dan non-fiksi) dan non buku (CD atau e-book)
  3. Berlangganan jurnal ilmiah
  4. Koleksi referensi (kamus, biografi, atlas, peta dunia, globe)
  5. Pembelian perangkat / perabot pendukung bekerja dan penyimpan (untuk ruang baca, rak buku, majalah, peralatan multimedia
  6. Layanan yang akan disediakan perpustakaan (termasuk jam buka / hari layanan, berapa jumlah buku yang bisa dipinjam siswa/mahasiswa, berapa lama masa pinjam, apa konsekuensi jika tidak mengembalikan buku atau terlambat
  7. Jumlah staf / tenaga perpustakaan
  8. Struktur organisasi’
  9. Program kerja perpustakaan

Hasil pertemuan ini akan menentukan mau dibawa ke mana perpustakaan ke depan. Keputusan pemangku kebijakan ini menjadi dasar bagi pustakawan / tenaga perpustakaan / Pegiat Literasi yang bekerja di perpustakaan sekolah / perguruan tinggi.

4. Memiliki Semangat untuk Belajar Mengelola Perpustakaan

Sebagai orang yang pertama kali tercebur di dunia perpustakaan, mental Pegiat Literasi akan diuji. Milikilah semangat giat belajar dan tidak mudah menyerah. Beranilah mencoba.

Ada dua cara mengelola perpustakaan, yaitu :

  1. Cara manual
  2. Sudah menggunakan automasi perpustakaan

Tidak ada yang dibilang cara yang benar atau salah. Jika anggaran unit bekerja kita belum mampu menyediakan perangkat unit komputer atau tidak ada listrik yang stabil, janganlah Pegiat Literasi berkecil hati.

Baik cara manual maupun menggunakan automasi perpustakaan sama-sama digunakan untuk mengelola perpustakaan. Bedanya hanya ada pada kemudahan penarikan data / laporan. Jika pegiat literasi menggunakan cara manual, laporan bulanan / akhir tahun ajaran terpaksa harus dibuat manual, kita harus menghitung satu-persatu.

Sebaliknya, jika menggunakan automasi, kita tinggal unduh / download saja laporan tersebut. Untuk laporan ini juga bisa ditarik datanya jika kita sudah mampu mengisi dan mengoptimalkan program tersebut dengan baik.

Automasi Perpustakaan

Apa itu automasi perpustakaan? Automasi Perpustakaan adalah sebuah proses pengelolaan perpustakaan dengan menggunakan bantuan Teknologi informasi (TI).

Rekomendasi Pustakawan Mendunia saat ini program otomasi perpustakaan terbaik di Indonesia adalah Senayan Library Management System (SLiMS). Ini merupakan program open source, itikad baik pendirinya program ini bisa didownload gratis. SLiMS merupakan karya lulusan Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia, Bang Arie Nugraha dan Bang Hendro Wicaksono. Jempolan pokoknya abang kita ini πŸ™‚

Jangan khawatir, cara menginstall program ini sangatlah mudah. Cukup unduh dan ikuti cara pemasangannya. Pegiat literasi juga dapat bertanya bagaimana cara menginstall program SLiMS di Forum SLiMS.

Jika masih ragu kira-kira bagaimana nanti tampilan SLiMS di layar komputer kita, bisa dicoba juga halaman demonya di sini.

Apakah ada program automasi tersedia dari PNRI? Sesungguhnya ada Inlis. Tapi sayangnya program ini sifatnya bukan open source. Tidak bisa dimodifikasi dan tidak punya forum komunitas yang sigap sebagai tempat bertanya.

Oleh karena itu, Pustakawan Mendunia menyarankan Pegiat Literasi untuk menggunakan SLiMS yang sudah ada (official) dari tahun 2007.

Jika program automasi sudah terinstall, tahap berikutnya adalah mengetahui bagaimana menggunakannya bukan? Akan kita bahas di post berikutnya.

5. Menjadi Pustakawan yang Punya Hati

Menjadi Pustakawan yang Punya Hati
Para Pustakawan Mendunia Berkumpul pada Pembahasan Penyusunan Modul Advokasi Transformasi Perpustakaan Umum Berbasis Inklusi Sosial di Papua dan Papua Barat, di Hotel Acacia, Jakarta

Perpustakaan ada sebagai tempat demokratis dan terbuka bagi semua pengunjung. Menjadi Pustakawan Mendunia berarti kita mendobrak image Pustakawan yang judes, tidak ramah, dan tidak punya mental senang berbagi pengetahuan.

Kalau orang bilang pelanggan adalah raja, maka pengunjung perpustakaan juga demikian. Kita melakukannya karena apa? Apakah karena takut complain / keluhan akan sampai kepada atasan, atau supaya performance kita tampak baik?

Jawabannya karena kita tahu : Knowledge sets you free. Pengetahuan itu membebaskan. Pustakawan Mendunia menjadi alat untuk membantu pengunjung perpustakaan memperoleh suatu pengetahuan yang memperluas pandangan mereka. Merupakan kebahagiaan melihat bahwa sedikit apa yang kita lakukan bisa membantu orang lain membuka wawasan mereka lebih luas dan mentransformasi hidup mereka.

Bekerjalah dengan sukacita, bekerjalah dengan hati, niscaya merupakan suatu kebahagiaan bagi Pegiat Literasi untuk berangkat bekerja setiap paginya ke perpustakaan.

Semoga kiranya 5 tips sukses bekerja pertama kali menjadi pustakawan ini, dapat menjadi inspirasi bagi para Pegiat Literasi πŸ™‚

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

  Subscribe  
Notify of
%d blogger menyukai ini: