You are currently viewing Tips Membuat Buletin Perpustakaan

Tips Membuat Buletin Perpustakaan

Banyak cara bisa Pegiat Literasi lakukan untuk mempromosikan kegiatan perpustakaan/taman bacaan. Salah satunya dengan terlibat di dalam penulisan buletin tempat kerja atau perpustakaan. Jika dahulu buletin/newsletter hanya di dalam bentuk tercetak, sekarang kita bisa membuatnya di dałam bentuk elektronik.

Apa yang bisa ditulis?

  1. Ulasan buku
    Pustakawan bisa memberikan ulasan buku rekomendasi atau buku baru yang ada di perpustakaan. Ulasan ini bisa dari pustakawan sendiri, guru/pengunjung perpustakaan, atau siswa. Ulasan buku tidak perlu terlalu panjang, karena prinsip desain media elektronik saat ini adalah KISS (Keep It Simple Stup*d). Tapi informasi yang jelas harus ada, informasi sampul buku, judul bukunya, nama penulis buku, sinopsis singkat mengenai kelebihan buku itu.
  2. Peminjam buku paling sering
    Berdasarkan sistem perpustakaan, Pustakawan pasti memiliki data siapa anggota perpustakaan yang meminjam buku paling sering/banyak. Pustakawan bisa menanyakan kepada atasan, apakah perlu diambil datanya setiap bulan, setiap enam bulan sekali, atau cukup setahun sekali. Lebih baik lagi jika memang bisa sekalian dibuat acara tersendiri (misalnya Festival Literasi atau Acara Tutup Tahun) untuk merayakan prestasi ini.
  3. Buku yang paling sering dipinjam
    Berdasarkan data di sistem perpustakaan, Pustakawan juga bisa melihat buku apa yang paling sering dipinjam dalam periode tertentu. Pustakawan bisa memilih 3, 5, atau 10 buku yang paling sering dipinjam pada bulan/tahun berjalan.
  4. Perayaan Literasi
    Dengan mempersiapkan agenda perayaan literasi selama setahun (Baca juga: Hari Bersejarah & Hari Penting Literasi dan Perpustakaan di Indonesia), Pustakawan bisa bersiap, tema apakah yang bisa diangkat untuk edisi buletin berikutnya. Pustakawan bisa menentukan topik, misalnya perayaan ulang A. A. Milne, penulis buku Winnie the Pooh. Pustakawan dapat memberikan informasi berupa biografi singkat A. A. Milne dan buku apa saja yang ditulis oleh A. A. Milne dan dimiliki perpustakaan.

Baca juga: 4 Tips Ampuh Membuat Tema Kreatif untuk Perpustakaan Kita

Apa yang perlu dipersiapkan?

Jika ide menulis sudah Pegiat Literasi miliki, selanjutnya apa lagi yang perlu dipersiapkan?

  1. Izin dari atasan
    Tanpa persetujuan dan dukungan atasan, tentu sulit untuk mewujudkan adanya buletin ini
  2. Menentukan jadwal terbit buletin
    Pustakawan bersama tim perlu membuat kesepakatan, apakah buletin ini akan terbit sebulan sekali, per semester, atau cukup setahun sekali. Kesepakatan periode terbitnya buletin ini tentu akan mempengaruhi beban bekerja.
  3. Komitmen menulis
    Motivasi diri sendiri untuk bisa memiliki komitmen menulis dan mengejar tenggat waktu yang sudah ditentukan bersama
  4. Memiliki tim kerja
    Apakah Pustakawan bisa mengerjakan buletin ini sendiri? Tentu saja bisa. Namun, mengerjakan buletin ini sendiri akan memakan waktu yang cukup banyak. Karena membuat buletin bukan hanya sekadar menulis. Buletin yang baik memiliki ciri desain khusus, disertai ilustrasi, foto, dan layout yang menarik. Jika Pustakawan memiliki waktu untuk belajar mengenai desain dan tata letak tentu akan sangat membantu untuk membuat sebuah produk buletin perpustakaan. Namun, jika si Pustakawan tidak bisa atau sangat sibuk dengan tugas utama lainnya, tentu lebih baik mengerjakan buletin ini dengan tim lainnya.
  5. Mendorong anggota perpustakaan sebagai kontributor tulisan
    Keberadaan anggota perpustakaan adalah amunisi yang sangat baik untuk mempromosikan kegiatan/produk yang dimiliki perpustakaan. Perpustakaan menjadi semakin terasanya nyata dimiliki oleh anggotanya. Oleh karena itu, undanglah angora perpustakaan untuk bisa menyumbangkan tulisan, foto, illustrasi, atau kesan pesannya di buletin perpustakaan.
  6. Perhatikan hak cipta
    Ingatlah untuk menghargai sumber dari mana Pegiat Literasi mengutip suatu informasi. Berikan catatan sitasi, informasi tersebut diambil dari mana. Hargai usaha dan kerja keras orang yang sudah kita kutip.

Mengapa repot sekali?

Pustakawan Mendunia berharap bahwa pertanyaan ini bukanlah diajukan oleh Pegiat Literasi yang membaca tulisan ini. Salah satu misi Pustakawan Mendunia adalah Pustakawan yang Terus Belajar. Tanpa belajar, kita tidak mungkin bisa memaksimalkan layanan perpustakaan kepada pemustaka. Berbagai fasilitas yang dimiliki perpustakaan misalnya ruang temu/diskusi, buku-buku bagus dan berkualitas, ini semua akan mubazir karena tidak diketahui keberadaannya oleh pemustaka.

Apalah artinya keberadaan perpustakaan yang tidak memberikan dampak positif bagi pemustakanya? Segala pekerjaan, rutinitas, dan kesibukan yang Pegiat Literasi lakukan akan sia-sia belaka. Jadi sesungguhnya, menulis sebuah buletin dan mempromosikan kegiatan dan layanan perpustakaan bukan semata-mata untuk ‘menambah’ pekerjaan Pustakawan. Justru buletin perpustakaan itu menjadi sebuah strategi untuk mempromosikan layanan yang ditawarkan perpustakaan bagi pemustakanya.

Selamat mencoba! 😀

Tinggalkan Balasan