Mengapa Siswa Perlu Menyalakan Kamera pada Sesi Belajar Daring?

Pada masa belajar daring atau jarak jauh ini, terdapat fenomena ketika anak-anak enggan untuk menyalakan kameranya. Ketika guru memanggil si anak, tidak ada jawaban. Guru tidak dapat mengawasi ada di mana si anak, apakah benar dia memperhatikan pelajaran, atau justru bermain game, dan sebagainya.

Seakan-akan muncullah sebuah pemahaman dangkal bahwa siswa harus menyalakan kameranya saat sesi belajar daring karena itu adalah peraturan sekolah. Benarkah hanya karena itu? Pustakawan Mendunia kemudian mengajak anak-anak kelas 5 untuk membahas hal ini bersama-sama:

  1. Respect
  2. Seperti Tatap Muka Sesungguhnya
  3. Ada Rasa Percaya (Trust)

1. Respect

Pustakawan Mendunia memulai percakapan kami dengan bermain peran. Misalnya anak-anak adalah pemegang modal (investor) dan ada orang yang ingin menjual proyek kepada anak-anak. Pada masa Pandemi Covid-19, tentu kita tidak bisa melakukan rapat (meeting) secara langsung. Oleh karena itu, pertemuan dengan potensi transaksi maha milyar ini akan dilaksanakan secara daring.

Apakah anak-anak mau berinvestasi kepada orang yang tidak dikenal dan mematikan kameranya saat melakukan rapat? Saat mematikan kamera di tengah meeting online, banyak hal bisa terjadi di luar pengetahuan kita. Orang di seberang kita bisa jadi dalam keadaan celaka. Lebih parah lagi bisa saja dia malah mengupil, mengangkat kaki ke atas meja, atau sedang menjulurkan lidah di depan kita. Apakah anak-anak mau berinvestasi kepada orang itu?

Oleh karena itu, ketika kita menyalakan kamera kita pada sesi daring, artinya kita respect atau menghargai orang yang juga hadir saat rapat.

2. Seperti Tatap Muka Sesungguhnya

Ketika Pustakawan Mendunia hadir di sesi Perpustakaan yang dilaksanakan secara daring, tentu kami sudah mandi sebelumnya. Bukan hanya itu, kami juga mengenakan pakaian yang pantas untuk bekerja, menyisir rambut, menggunakan make up natural, bahkan juga memberikan parfum, seperti setiap harinya saat kami akan berangkat kerja.

Mengapa kami harus repot-repot melakukan itu semua? Kenapa Pustakawan Mendunia harus mandi? Padahal bisa saja bangun tidur langsung pergi online mengajar. Mengapa kami harus repot-repot? Karena bagi Pustakawan Mendunia, sesi daring sama saja seperti saat mengajar langsung di depan anak-anak. Seperti apa yang anak-anak temui kami di sekolah sehari-hari sebelum pandemik, demikian pula mereka menemukan kami saat sesi perpustakaan yang dilakukan secara daring.

Begitu pula dengan fasilitas chat pada Google Hangout Meet yang kami lakukan. Ketika ada siswa yang sibuk chat di sana artinya si anak sedang berbicara di depan kelas. Oleh karena itu percakapan OOT (out of topic) sangat tidak disarankan untuk dilakukan di sana.

3. Ada Rasa Percaya (Trust)

Semua usaha ini lakukan untuk menumbuhkan rasa percaya (trust), sekolah serius mendidik anak-anak dan anak-anak sungguh-sungguh untuk belajar.

Kembali ke role play yang Pustakawan Mendunia gunakan tadi. Apakah anak-anak mau berinvestasi kepada orang yang tidak menyalakan kameranya, tidak berpenampilan rapi saat melakukan rapat (meeting), dan tidak dapat dipercaya? Pertanyaan ini anak-anak yang menjawab, dan hasilnya… semua anak menyalakan kameranya di sesi perpustakaan kami. Pustakawan Mendunia begitu terharu T.T

Memahami, Bukan Sekadar Patuh

Pustakawan Mendunia percaya bahwa ketika kita melakukan sesuatu, kita membutuhkan sebuah alasan. Demikian pula anak-anak. Sekadar memberi tahu hanya karena itu sebuah peraturan, tidak akan menumbuhkan kesadaran anak-anak untuk menaatinya. Butuh waktu untuk menumbuhkan kesadaran ini, kiranya Bapak/Ibu Guru tetap semangat dan sabar untuk mengingatkan anak-anak menyalakan kamera mereka pada pembelajaran daring.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *