You are currently viewing Menjadi Pustakawan Tanpa Batas

Menjadi Pustakawan Tanpa Batas

Pustakawan Mendunia sungguh bersyukur memiliki kehormatan diundang oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai pemateri dengan topik Pustakawan Tanpa Batas. Undangan ini justru membuat Pustakawan Mendunia berefleksi dan mendefinisikan kembali apakah yang dimaksud dengan pustakawan tanpa batas? Apakah Pustakawan Mendunia sudah melakukannya?

Pelaksanaan LibTalks ini bisa disaksikan melalui Zoom dan Live Streaming di WBS Radio Perpusnas.

Sesi Tanya Jawab dengan Bapak/Ibu Pegiat Literasi dan Pustakawan Penggerak

Menurut kami, ini adalah sebuah topik dengan bobot luar biasa. Karena sering kali Pustakawan merasa bekerja sendiri dan mengalami banyak hambatan di dalam pekerjaannya. Masalah klasik seperti anggaran keuangan, kurangnya sumber daya manusia untuk mendukung program, atau terbatasnya sarana dan prasarana perpustakaan. Yakin, memangnya perpustakaan masih bisa eksis bertahan, apalagi di masa pandemi Covid-19 seperti ini?

Belajar dari Papua

Pustakawan Mendunia Belajar dari Papua

Pernah bekerja selama 5 tahun di Papua sungguh mengubah perspektif Pustakawan Mendunia. Ketika tiba di Kabupaten Mimika, Propinsi Papua tanggal 5 November 2013, Pustakawan Mendunia datang dari pengalaman lahir & dibesarkan di kota Jakarta, alumni dari Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia, dan memiliki pengalaman kerja dan magang di Jakarta. Ibarat kata, Pustakawan Mendunia seperti anak kota masuk belantara hutan. Apa yang selama ini menjadi bekal dan dipelajari Pustakawan Mendunia, ternyata tidak kontekstual di keadaan sosial, budaya, dan ekonomi Papua.

Fakta atau Pendapat?

Pustakawan Mendunia memulai sesi dengan memberi refleksi mana yang fakta atau pendapat. Mengenali mana yang fakta atau pendapat akan membantu Pegiat Literasi untuk menilai bahwa kebanyakan yang disebut sebagai batasan itu sesungguhnya hanyalah pendapat, dan bukan fakta. Contohnya:

  • “Gak bisa.”
  • “Gak ada uangnya.”
  • “Gak ada bukunya.”
  • “Kita ini tertinggal.”
  • “Pimpinan tidak mendukung.”
  • “Anak-anak gak suka membaca.”

Pustakawan Mendunia berbagi berdasarkan pengalaman bekerja di daerah ‘sulit’ seperti Papua, bahwa semua pernyataan ini hanyalah berupa pendapat. Sesungguhnya selalu ada jalan jika kita memiliki growth mindset. Bahkan yang merupakan fakta seperti Covid-19 pun dapat kita lewati. Ubahlah tantangan menjadi kesempatan. Pustakawan Mendunia kemudian berbagi kiat-kiat praktis cara mematahkan pernyataan-pernyataan yang hanyalah pendapat ini.

Pustakawan Penggerak

Pustakawan Mendunia hanyalah berbagi sebuah kepingan kisah kecil. Apa yang sudah pernah diberikan dan dilakukan selama lima tahun di tempat yang serba terbatas, ternyata berbuah manis. Anak-anak memiliki minat baca yang tinggi, berprestasi, dan masih tetap gemar membaca sekalipun Pustakawan Mendunia sudah meninggalkan Papua.

Pustakawan punya andil besar melalui program literasi dan perpustakaan kita untuk membantu mewujudkan mimpi anak-anak, demi masa depan mereka. Bapak Ibu Pegiat Literasi dan Pustakawan adalah penggeraknya. Batasan itu sesungguhnya dapat kita lewati. Tetap semangat!

Tinggalkan Balasan