Siap-Siap Tersengat Inspirasi dalam Asian Festival of Children’s Content

Pustakawan Mendunia Menyampaikan Materi pada AFCC 2019
Pustakawan Mendunia Menyampaikan Materi dalam Asian Festival of Children’s Content 2019 di Perpustakaan Nasional / National Library of Singapore

Pustakawan Mendunia merasa sangat terhormat memperoleh kesempatan untuk menghadiri Asian Festival of Children’s Content (AFCC) 2019 sebagai pembicara dan memperoleh inspirasi luar biasa. Acara ini dilaksanakan oleh Perpustakaan Nasional Singapura (National Library of Singapore / NLB) pada 5-8 September 2019 di Singapura.

Sesi kami berlokasi di The Pod, Lantai 16 Gedung Perpustakaan Nasional, Sabtu, 7 September 2019 mulai 13.30-14.30 waktu Singapura. Pustakawan Mendunia senang sekali bisa berbagi pengalaman bekerja kepada peserta AFCC 2019 mengenai strategi menumbuhkan minat baca anak.

Mungkin Pegiat Literasi masih merasa asing dengan acara AFCC ini, apa dan mengapa acara ini penting dan memberi inspirasi jika kita ikuti?

Apa itu Asian Festival of Children’s Content?

Asian Festival of Children's Content (AFCC)
Asian Festival of Children’s Content (AFCC)

Asian Festival of Children’s Content (AFCC) merupakan perayaan tahunan yang mempromosikan kualitas isi bahan bacaan anak-anak dan dewasa muda. Festival ini diselenggarakan oleh Dewan Buku Singapura (Singapore Book Council / SBC).

Festival ini diisi dengan diskusi, presentasi, pelatihan, dan pameran buku juga memberikan pilihan ragam buku dan/dari pembicara (resource speakers) serta penerbit lokal dan internasional.

AFCC merupakan acara unik di Asia dan memberikan kesempatan untuk pendidik, penulis, ilustrator, editor, penerbit, distributor, orang tua, guru, dan pustakawan bertemu dan berkolaborasi. SBC mulai melaksanakan kegiatan awalnya bernama Asian Children’s Writers & Illustrators Conference (ACWIC) sejak tahun 2000. Barulah kemudian pada tahun 2010 acara tersebut bertransformasi menjadi Asian Festival of Children’s Content.

Tahun 2019 ini, tema utama yang diusung oleh SBC adalah “Diversity” atau keberagaman. Pustakawan Mendunia merasa tema ini sangat sesuai dengan pengalaman bekerja selama ini Papua dan Batam. Inilah yang memotivasi Pustakawan Mendunia mengirimkan abstrak tulisan kepada panitia.

Analysis of Children’s Preference for Readings Based on Their Identity

Analysis of Children's Preference for Readings Based on Their Identity
Analysis of Children’s Preference for Readings Based on Their Identity

Pustakawan Mendunia memperoleh tema “How the Perception of Identity Affects Readers and Writers” untuk dibahas dalam AFCC. Pustakawan Mendunia mengisi sesi tersebut dengan Ibu Maya Thiagarajan, penulis buku “Beyond the Tiger Mom: East-West Parenting for the Global Age”.

Pustakawan Mendunia menyampaikan materi dengan judul: “Analysis of Children’s Preference for Readings based on Their Identity”. Kurang lebihnya, jika kita terjemahkan ini dalam Bahasa Indonesia, akan menjadi “Bagaimana Persepsi Identitas Mempengaruhi Pembaca : Analisis Ketertarikan Anak-Anak untuk Membaca berdasarkan Identitas Mereka.”

Pustakawan Mendunia menjelaskan bagaimana strategi yang dibuat untuk meningkatkan minat baca anak dengan mengenal identitas anak-anak terlebih dahulu. Ini yang Pustakawan Mendunia sebut sebagai : pendekatan kontekstual.

Pengalaman bekerja Pustakawan Mendunia di Papua selama 5 tahun dan di Batam dalam 2 tahun berjalan ini, memberikan presentasi menarik dan tentu membuat penasaran para peserta. Seperti apa strategi yang dilakukan Pustakawan Mendunia dalam menularkan semangat gemar membaca di kedua tempat yang kontras ini? Apakah metode yang digunakan Pustakawan Mendunia berhasil untuk diterapkan kepada anak-anak baik di Papua dan di Batam? Jawabannya ada di dalam presentasi ini.

Memperoleh Inspirasi

Sebagai pembicara, Pustakawan Mendunia memiliki akses masuk ke tempat acara AFCC selama 4 hari secara gratis. AFCC 2019 mengenakan biaya kepada peserta sebesar SGD 260,- Jadi mumpung punya akses gratis, tentu saatnya Pustakawan Mendunia menggunakan kesempatan ini dengan optimal.

AFCC penuh dengan kegiatan berjadwal padat dan ratusan pembicara datang dari seluruh dunia untuk berbagi pengalaman profesional mereka. Sayang, karena satu dan lain hal, Pustakawan Mendunia hanya dapat hadir pada hari Sabtu dan Minggu saja.

Beberapa sesi favorit Pustakawan Mendunia di AFCC adalah :

  1. Young Book Reviewers Speaks Out
  2. Speed Date with Authors
  3. Dealing with Trauma in Books
  4. Rebels in Children and Young Adult Literature
  5. Books Launching by Armour Publishing
  6. Kurasi Buku Pilihan AFCC

1. Young Book Reviewers Speaks Out!

Sesi ini sangatlah seru! Karena pada sesi ini kita bisa berjumpa dengan anak-anak remaja yang senang membaca dan mempromosikan buku bacaannya. Semua sepakat bahwa membaca itu menyenangkan dan beberapa malah merasa waktu mereka membaca masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan jumlah bahan bacaan yang menarik untuk dibaca.

Beberapa juga bercerita orang tuanya sudah meminta mereka untuk mengurangi membaca buku, hahaha. Berada di sesi ini Pustakawan Mendunia merasa terharu melihat para remaja luar biasa yang berada di jalur sama dengan Pustakawan Mendunia saat remaja dulu. Pustakawan Mendunia merasa bertemu dengan teman lama di sesi ini. Terima kasih untuk moderator sesi ini, Ibu Kim Beeman yang telah berhasil mendorong siswa dari sekolahnya hadir dan berbagi di AFCC 2019.

Menurut Pustakawan Mendunia, sesi ini sangat baik untuk dilanjutkan sebagai program tetap AFCC. Melihat remaja mencintai buku dan berani berbagi semangat membaca mereka, rasanya sangat melegakan bagi kita semua. Masih ada harapan kemajuan dunia lewat literasi.

2. Speed Date with Authors

Sebenarnya Pustakawan Mendunia mau protes dengan sesi ini, kok ya cuma sebentar hanya 60 menit. AFCC menyediakan waktu ‘kencan’ alias bertemu dengan penulis buku favorit kita dan stand by di Drama Center Foyer NLB. Setiap orang hanya memperoleh jatah untuk bertemu selama 3 menit.

Saatnya bertemu dengan penulis favorit, dan bisa meminta tanda tangan mereka di buku kita juga minta foto bersama dong. Pustakawan Mendunia hanya sempat bertemu sebentar dengan A. J. Low, suami istri penulis buku Sherlock Sam, karena dikejar waktu untuk sesi “Analysis of Children’s Preference for Readings based on Their Identity”.

3. Dealing with Trauma in Books

Sekalipun Pustakawan Mendunia belum pernah membaca buku yang dibahas dalam sesi ini, tetap tidak mengendurkan niat untuk hadir. Sesi ini membahas buku-buku yang terinspirasi oleh kisah nyata dari penulisnya, yaitu : Hanna Alkaf (Malaysia) dan Emily X. R. Pan (USA)

Pustakawan Mendunia sangat tertarik melihat bagaimana Ibu Hanna Alkaf mampu menjelaskan diskriminasi ras yang terjadi di Malaysia secara gamblang di dalam bukunya. Tidak ada penerbit di Malaysia mau menerbitkan bukunya. Akhirnya jejaring Ibu Hanna Alkaf tiba di penerbit Amerika Serikat dan di sanalah buku itu diterbitkan dan memperoleh atensi masyarakat pencinta buku secara luas. Bisa dikatakan jalur distribusi buku “The Weight of Our Sky“nya Ibu Hanna Alkaf ini berangkat dari Amerika Serikat-kembali ke (rumahnya di) Malaysia dan ke menyebar seluruh dunia.

Jadi, jangan menyerah dengan naskah tulisan Pegiat Literasi. Jika menurut Pegiat Literasi topik tersebut kontroversial untuk dibahas di Indonesia, bisa diambil pilihan untuk menerbitkannya di negara lain terlebih dahulu baru kemudian kembali di Indonesia.

Terima kasih Ibu Hanna Alkaft untuk sesinya, sangat menginspirasi Pustakawan Mendunia.

4. Rebels in Children and Young Adult Literature

Pustakawan Mendunia sangat tertarik untuk menghadiri sesi ini karena judulnya, “Rebels.” Rebels atau bisa kita artikan sebagai pemberontak, merupakan fenomena nyata saat ini. Mereka berani berpikir berbeda dan dipanggil sebagai rebels, sesungguhnya memiliki kepribadian menarik.

Pengisi materi untuk sesi ini adalah Philip Nel, Simon Chesterman, Aldy Aguirre. Ketiga pemateri ini sepakat bahwa mereka yang kita berikan label “Rebels” sebenarnya tidak pernah berpikir bahwa mereka adalah rebels. Ketiga pemateri ini juga menyampaikan bahwa sesungguhnya Rebels ini hanya butuh untuk didengarkan isi pikirannya.

Pustakawan Mendunia sepakat bahwa istilah “rebels” bukanlah hal yang perlu kita tanggapi negatif. Keberadaan kita sebagai Pegiat Literasi sesungguhnya justru mendorong anak-anak untuk punya pikiran ‘berbeda’. Bukan berbeda dalam artian negatif, tapi “berbeda” karena kita adalah orang yang membaca, menganalisis, dan berpikir.

Manusia gemar membaca dibandingkan dengan mereka yang kurang banyak membaca akan memberikan reaksi berbeda ketika menghadapi masalah. Orang yang membaca akan mampu menahan pendapat pribadinya dan mampu mendengarkan pandangan pihak lain yang berseberangan dengan dirinya. Karena kita mampu menempatkan diri sebagai pembaca yang mendengar opini orang lain terlebih dahulu.

Inipun merupakan sesi yang sangat menarik dan memberi inspirasi bagi Pustakawan Mendunia.

5. Books Launching by Armour Publishing

Sesungguhnya Pustakawan Mendunia hadir ke sini untuk tujuan berjejaring. Pustakawan Mendunia mau menjalin relasi dengan pihak penerbit Armour. Siapa tahu bisa suatu saat bekerja sama mengundang penulis mereka sebagai nara sumber. Jadi, Pustakawan Mendunia tidak mengetahui siapa sebenarnya penulis buku “Keys of Archellos (Luminous Sword Book 3)” ini dan seperti apa kisah bukunya.

Tidak sangka, ternyata buku ini punya banyak fans, yaitu anak-anak, dan ruangan pertemuan kami penuh sesak dengan orang. Seterkenal itu penulis bukunya, diimpor dan terbang dari Inggris, Ibu Eunice Li-Tan dan ilustrator sampul bukunya, Dominic. Sangat menarik melihat bagaimana Dominic menjelaskan proses menciptakan sampul trilogi Luminous Sword. Ibu Eunice Li-Tan juga menambahkan dari mana inspirasi kisahnya dan sempat membacakan satu bagian bukunya “Keys of Archellos”.

Pustakawan Mendunia sangat terkesan melihat kedua orang pegiat literasi ini bergerak sebagai Content Creator, seperti ada bara api di mata mereka. Ada sebuah semangat berkobar di sana, mereka adalah orang yang menghidupi passionnya.

6. Kurasi Buku Pilihan AFCC

Kurasi Buku Pilihan Asian Festival of Children's Content
Kurasi Buku Pilihan Asian Festival of Children’s Content.jpg

Pustakawan Mendunia cuma bisa bilang T-O-P B-G-T untuk buku-buku kurasi pilihan AFCC 2019! Hampir 2 jam Pustakawan Mendunia nongkrong membuka buku satu persatu di sana, di booth yang sebenarnya tidak besar. Tapi hampir semua pilihan bukunya sangat mendukung dengan tema AFCC 2019, yaitu “Diversity” atau keberagaman.

Terdapat buku-buku, mayoritas buku anak dari berbagai bangsa dan budaya di Asia. Juga buku-buku dengan tema unik dan berani untuk menjadi otentik diri sendiri. Pustakawan Mendunia sibuk memfoto sampul buku dan nomor ISBN buku-buku incaran di sana. Nanti daftar buku ini dapat Pustakawan Mendunia gunakan sebagai rekomendasi pengadaan buku tahun depan di perpustakaan.

Sayangnya, tidak ada buku karya penulis lokal Indonesia di dalam booth / toko buku AFCC 2019. Pustakawan Mendunia melihat bahwa para penulis dan penerbit Malaysia sudah lebih siap daripada Indonesia. Bahkan ada satu sesi khusus diadakan di AFCC untuk launching buku-buku karya penulis Malaysia dan mengangkat tema budaya Malaysia.

Bagaimana kita mau mendukung majunya literasi di bangsa dan budaya kita kalau kita tidak mengenal identitas kita. Jika kita tidak bangga dan tidak sayang dengan negara dan bangsa kita, lalu mau bagaimana mempromosikan literasi dan memperkuat identitas kita sebagai Indonesia atau negara lain di Asia? Maka kita harus mendukung content creator / penulis lokal kita untuk berkarya, khususnya untuk mengangkat nilai-nilai lokal dan budaya kita.

Saatnya Berjejaring dengan Sesama Pegiat Literasi

Pustakawan Mendunia berpose bersama Ibu Murti Bunanta dan Miss G, Editor Buku dari Thailand
Pustakawan Mendunia berpose dengan Ibu Murti Bunanta (Kelompok Pecinta Bacaan Anak) dan Ibu Gassanee Thaisonthi (Asosiasi Penulis Thailand)

AFCC memilih negara Myanmar sebagai fokus negara yang diangkat di tahun 2019. Kekayaan budaya dan kemajuan literasi Myanmar disokong SBC dalam perayaan AFCC. Para penulis dan penerbit buku dari Myanmar disponsori untuk datang pada acara AFCC 2019.

Oleh karena itu, AFCC khusus melaksanakan Myanmar Night sebagai acara puncak sekaligus penutup AFCC 2019. Tersedia makan malam dengan pilihan menu khas Myanmar dan acara ini dibuka dengan tarian tradisonal Myanmar. Penutupan AFCC 2019 dilakukan oleh Ibu Claire Chiang, direktur SBC dan dihadiri oleh para pejabat tinggi SBC. Pesan Ibu Claire Chiang bahwa literasi muncul dari komunikasi, dan saatnya melalui literasi kita membangun jembatan komunikasi antara satu dengan yang lainnya.

Merupakan suatu kebetulan bahwa Pustakawan Mendunia tidak sengaja berpapasan dengan Ibu Claire Chiang di toilet The Pod, NLB. Waktu itu Pustakawan Mendunia tidak mengenali beliau. Beliau sangat rendah hati dan sungguh melaksanakan amanat yang dikatakannya, beliau berhasil membangun komunikasi hangat dengan siapa saja yang ditemuinya.

Semangat ini tentu mengingatkan Pustakawan Mendunia untuk berjejaring pada makan malam indah Myanmar Night di The Pod, lantai 16. Saatnya Pustakawan Mendunia menggunakan kesempatan ini untuk berkenalan dengan tamu undangan, para pegiat literasi dan content creator dari Asia dan benua lainnya.

Asian Festival of Children’s Content 2020

Asian Festival of Children's Content 2020
Asian Festival of Children’s Content 2020

Setelah membaca semua manfaat baik yang Pustakawan Mendunia peroleh dalam AFCC 2020, tidakkah Pegiat Literasi ingin menghadirinya?

Pegiat Literasi dapat memilih untuk hadir sebagai peserta (berarti membayar tiket masuk) atau sebagai pembicara / resource speaker. Menurut Pustakawan Mendunia, akan sangat bermanfaat jika Pegiat Literasi dapat hadir sebagai pemateri / pembicara.

Pegiat Literasi tidak hanya akan memperoleh inspirasi dan tapi juga kaget melihat bahwa begitu banyak peluang dan kesempatan bisa dibuat untuk kemajuan literasi di komunitas kita. Pegiat Literasi dapat berbagi apa saja keberhasilan program dan atensi anak-anak dalam program dan inovasi yang sudah dilakukan di komunitas selama ini.

Pustakawan Mendunia memperoleh banyak respons positif dari peserta yang hadir, seperti dosen, orang tua, juga sesama pustakawan dalam presentasi “Analysis of Children’s Preference for Readings based on Their Identity.” Semua kaget melihat bahwa inovasi dan pendekatan gemar membaca berhasil Pustakawan Mendunia lakukan di dua tempat yang kontras baik di Batam maupun Papua.

Tahun depan, SBC akan melaksanakan AFCC 2020 dengan tema “Voyage” yang akan dilaksanakan pada tanggal 28-31 Mei 2020 di National Library Building, 100 Victoria Street, Singapura, 188064. Panitia mengundang penulis buku, ilustrator, content creator, penerbit, pustakawan, guru, siswa untuk berbagi inovasi yang sudah dilakukan untuk memajukan literasi di komunitas untuk dapat hadir dan berbagi pengalaman kepada peserta AFCC.

Pegiat Literasi yang tertarik untuk hadir sebagai nara sumber dapat mengisi formulir pendaftaran di sini, dan panitia akan membutuhkan abstrak dan proposal penelitian mengenai materi yang akan Pegiat Literasi sampaikan. Jadwalnya adalah sebagai berikut :

Call for Paper submission/Pengumuman: 14 Oktober 2019

Call for Paper Sumbissions Close/Penutupan Pendaftaran dan Submit Dokumen: – 30 November 2019

Notification of application status/Informasi Status Tulisan Kita Diterima atau Tidak: 20 January 2020

Confirmation of Presentation Details/Konfirmasi Kehadiran dan Detail Lainnya: 14 February 2020

Pustakawan Mendunia sangat merekomendasi agar Pegiat Literasi bisa dapat menghadiri AFCC dan bersiaplah berjumpa dengan orang-orang luar biasa dan menginspirasi kita di sana.

Selamat mencoba!

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

  Subscribe  
Notify of
%d blogger menyukai ini: