Apa itu IFLA (International Federation of Library Associations and Institutions)?

Berpose bersama dengan pustakawan panitia World Library Congres 2018, di Kuala Lumpur, Malaysia

Kita Tidak Sendiri

Jangan minder karena merasa jumlah lulusan kita tidak sebanyak program studi lain yang populer di Indonesia seperti hukum, ekonomi, teknik, atau kedokteran. Keberadaan Pustakawan sebagai profesi yang langka dan dijumpai di Indonesia, tentu memerlukan wadah untuk berbagi pengetahuan dan strategi cerdas dalam meningkatkan layanan perpustakaan, literasi, dan informasi yang berkualitas tinggi. IFLA hadir sebagai lembaga pada cakupan internasional untuk menampung aspirasi pustakawan di dunia.

International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) adalah lembaga internasional untuk mengembangkan perpustakaan dan layanan perpustakaan berkualitas tinggi bagi penggunanya. Bisa dibilang IFLA saat ini masuk dalam kategori lembaga tertinggi dalam bidang perpustakaan dan layanan informasi di dunia.

IFLA bersama dengan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menyusun IFLA/UNESCO Manifesto pada tahun 1994 yang terus berkembang menjadi dasar / standar layanan (minimal) yang dilakukan oleh Perpustakaan dan lembaga informasi di seluruh dunia.

Tujuan IFLA

IFLA adalah lembaga internasional independen, dan nirlaba yang terbentuk pada tahun 1927 di Edinburg, Skotlandia pada sebuah konferensi internasional. Saat ini IFLA sudah memiliki 1.400 anggota dari 140 negara di dunia dan kantor pusatnya berada di Belanda.

Tujuan dari keberadaan IFLA yaitu:

  1. untuk mengutamakan standar perpustakaan dan layanan informasi yang lebih baik,
  2. menyebarluaskan pemahaman akan perpustakaan dan layanan informasi yang baik,
  3. mengembangkan minat anggotanya di seluruh dunia.

Nilai Dasar IFLA

Tujuan IFLA ini disarikan dari Article 19 dari Universal Declaration of Human Rights (Deklarasi Hak Asasi Manusia Universal) yaitu :

“Setiap orang, komunitas, dan lembaga memerlukan akses terhadap :

informasi, ide, dan karya imajinasi merata dan adil

melalui layanan perpustakaan dan informasi yang berkualitas tinggi

sebagai mahkluk sosial, terdidik, dan berbudaya.”

Terjemahan bebas dari IFLA.org

Keanggotaan IFLA

Keanggotaan IFLA terbuka untuk siapa saja tanpa membeda-bedakan kewarganegaraan, suku, ras, gender, lokasi geografis, bahasa, atau agama. Terdapat 2 kategori anggota IFLA yang memiliki hak voting :

  1. Association Members (Anggota Asosiasi), adalah Asosiasi (Ikatan) Pustakawan atau Pekerja Informasi yang berada dan bekerja di dalam bidang pendidikan dan penelitian.
  2. Institutional Members (Anggota Institusi), adalah untuk lembaga yang memberikan layanan informasi dan perpustakaan dan juga semua sektor organisasi dalam bidang informasi dan perpustakaan.

Anggota yang memiliki hak voting dapat memberikan vote saat pemilihan Presiden IFLA atau pengambilan keputusan rapat-rapat IFLA. Pegiat literasi dan pustakawan juga dapat bergabung dengan keanggotaan IFLA dalam kategori Personal Affiliates (PA). Hanya saja PA tidak memiliki hak voting namun tetap bisa berkontribusi dalam karya dan pelaksanaan program bersama IFLA.

World Library and Information Congress : IFLA General Conference and Assembly

World Library and Information Congress : IFLA General Conference and Assembly (WLC) adalah konferesi tingkat dunia yang diadakan setiap tahun pada bulan Agustus atau September. Pada konferensi ini, pegiat literasi akan berjumpa dengan para praktisi perpustakaan dan layanan informasi dari seluruh dunia.

Nama-nama penulis jurnal ilmiah dalam ilmu perpustakaan dan informasi yang selama ini hanya kita kenal lewat tulisannya, banyak dari mereka hadir pada WLC. Saya pernah hadir dalam WLC sebagai peserta dalam Workshop IFLA Satelitte Meeting tentang Information Literacy di WLC Kuala Lumpur 2018 kemarin.

Saya melihat, bahwa sesungguhnya sangat baik sekali jika peserta IFLA bukan hanya pustakawan yang bekerja secara profesional atau peneliti. Kita, pustakawan adalah orang yang mengerti cakupan ilmu kita dan butuh ‘dipanaskan’ sedikit supaya update dengan pengembangan dan tren dunia terkait perpustakaan.

Namun, menurut saya yang justru sangat penting untuk diundang hadir di IFLA justru seharusnya Presiden, Kepala Perpustakaan Nasional, Menteri Pendidikan, Menteri Keuangan, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara. Supaya bapak/ibu yang super sibuk pada divisinya masing-masing tersebut, mungkin belum ‘ngeh’ tentang vitalnya keberadaan perpustakaan di dunia, bisa tersadar. Bahwa langkah membangun bangsa melalui pendidikan hanya bisa dipercepat melalui pembangunan layanan perpustakaan dan informasi yang berkualitas tinggi.

Sumber : https://www.ifla.org/about/more

Tinggalkan Balasan