Mengikuti Diklat Kepala Perpustakaan Sekolah

Peserta Diklat Kepala Perpustakaan Sekolah X di Jakarta
Peserta Diklat Kepala Perpustakaan Sekolah X di Jakarta, 21 Agustus – 1 September 2017

Mengejar Ilmu

Saya beruntung dapat mengikuti Diklat Kepala Perpustakaan Sekolah angkatan (KPS) X yang diadakan di Jakarta dari tanggal 21 Agustus – 1 September 2017. Kami adalah 30 peserta yang terpilih dari seluruh Indonesia untuk dapat mengikuti Diklat Kepala Perpustakaan Sekolah yang diberikan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI).

Setelah pernah mendaftar satu tahun sebelumnya di sini, dan akhirnya saya masuk dalam jatah panggilan tugas untuk ikut pelatihan dari PNRI. Surat undangan mengikuti pelatihan saya berikan ke sekolah dan Yayasan, tentu maksudnya untuk dapat dukungan tiket pesawat Timika-Jakarta pp. Ternyata tidak ada budgetnya, saudara-saudara.

Kembali, saya mengutamakan passion dan berangkat ke Jakarta menggunakan akomodasi sendiri. Pelatihan KPS X ini sesungguhnya sudah menggunakan APBN negara, tapi hanya mencakup akomodasi (biaya tempat tinggal dan konsumsi) dan seminar kit kita selama pelatihan. Tiket pesawat kita dari tempat tinggal menuju Jakarta merupakan tanggungan (institusi) masing-masing.

Tiba di tempat pelatihan, semua peserta adalah bapak/ibu guru yang berasal dari sekolah negeri dan diberikan tugas tambahan sebagai kepala perpustakaan. Tambahan lagi, hanya saya saja yang hadir betul-betul bekerja sebagai pustakawan dan punya latar belakang bekerja sebagai pustakawan. Ditambah asal domisili saat itu dari Papua, ya jadi begitu lah jadi mungkin keberadaan saya langsung dikenali oleh panitia pelaksana.

Apa yang Dipelajari selama Diklat?

Sesungguhnya, semua ilmu yang dibagikan di Diklat KPS X kurang lebihnya sama dengan mata kuliah wajib kami di jurusan Ilmu Perpustakaan. Jadi bayangkan bobot materi yang kami pelajari bertahun-tahun itu dirangkum menjadi 12 hari. Kira-kira bisa terkejarkah?

Beberapa yang kami pelajari di antaranya adalah:

  1. Wawasan Pendidikan
  2. Pengembangan Koleksi
  3. Klasifikasi
  4. Layanan Jasa dan Informasi
  5. Pelestarian Bahan Pustaka
  6. Manajemen Pemasaran Perpustakaan Sekolah
  7. Peningkatan Minat, Gemar, dan Kebiasaan Membaca
  8. Manajemen Strategis Pengembangan Perpustakaan Sekolah
  9. Kepemimpinan dalam Kewirausahaan (Entrepreneurship) Bidang Perpustakaan
  10. Kompetensi Tenaga Perpustakaan & Etika Profesi Kepustakawanan
  11. Komunikasi Interpersonal

Selama kuliah di program studi Ilmu Perpustakaan, saya berada dalam posisi membaca teori dan standar Ilmu Perpustakaan di dunia, dan bukan sebagai pelaku. Saat mengikuti Diklat KPS X, materi yang diberikan seperti menjadi ‘pemanasan mesin’ bagi saya. Sekaligus menjadi tempat saya untuk belajar kasus atau best practice yang dilakukan teman-teman lakukan di tempat bekerja.

Ada beberapa catatan penting yang saya temukan menarik dan menginspirasi:

Sesi Favorit

Sesi favorit saya adalah dengan Pak Pri! Saya juga kurang ngeh sebenarnya Pak Pri alias Pak Supriyadi itu siapa di dalam jajaran orang penting di PNRI? Tapi tampaknya beliau sudah lama malang melintang dalam dunia orang penting skala nasional Indonesia. Saya sangat terinspirasi dengan kalimat Pak Pri, “Apakah kita akan menjadi orang yang menyalakan pelita atau justru menggerutu dalam gelap?”

Materi Manajemen Strategis Pengembangan Perpustakaan Sekolah yang disampaikan Pak Pri sungguh sangat menggugah saya. Sepulangnya dari Diklat KPS X, saya tergerak ingin berbuat sesuatu dengan apa yang saya bisa. Saya terinspirasi untuk menulis artikel tentang literasi informasi dan gerakan literasi pemuda di harian lokal, Radar Timika. Tiga kali tulisan saya berhasil masuk dalam kolom opini Radar Timika selama tahun 2017-2018. Terima kasih banyak Pak Pri untuk inspirasi dari bapak!

Inspirasi Program

Mengikuti KPS X juga memberikan inspirasi program untuk meningkatkan minat baca seperti Duta Baca Sekolah atau Library Club. Kebetulan Library Club saat itu sudah berjalan selama tiga tahun di sekolah tempat saya bekerja di Timika, Propinsi Papua dan saya laksanakan juga di tempat bekerja di Batam, Propinsi Kepulauan Riau.

Adapun untuk inspirasi pemilihan Duta Baca Sekolah, baru kemudian dilakukan pada Februari 2018 di tempat bekerja saya di Timika dan juga Februari 2019 ini di Batam. Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai ini, saya akan lanjutkan untuk menulis di post selanjutnya di Pustakawan Mendunia. Pegiat Literasi bisa membaca di Serunya Klub Perpustakaan Kita

Penting juga untuk Perpustakaan Sekolah membuat brosur profil kegiatan Perpustakaan. Pembuatan brosur ini juga sudah saya lakukan selama bekerja di Timika, namun memang belum saya usulkan untuk di tempat bekerja di Batam. Sekolah kami di Batam sudah memiliki brosur sekolah secara umum, dan profil singkat Perpustakaan sudah ada di dalamnya.

Informasi Terkini

Ilmu yang saya peroleh dari KPS X juga memberikan informasi terkini mengenai update perundang-undangan yang mendukung kegiatan Perpustakaan. PNRI sedang gencar mempromosikan Indonesia One Search dan Inlis sebagai program yang diberikan gratis untuk membantu pelaksanaan automasi perpustakaan.

Diklat KPS X membahas pula mengenai dasar Kurikulum 2013 dan pengaruhnya terhadap anggaran dan pengadaan buku-buku perpustakaan. Berikut adalah dasar hukum yang bisa Pegiat Literasi gunakan dalam mengelola perpustakaannya:

UUD 1945 pasal 28 (f), pasal 30, UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, UU No. 43 Tahun 2007, SK Menpan Nomor 81 tahun 1993 tentang Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Umum, Permendikbud No. 25 tahun 2008, UU No. 4 Tahun 1990 tentang serah terima deposit buku, PP 24/2014, UU No 5 tahun 2014, UU No. 14 Tahun 2008, UU No. 23 Tahun 2014.

Rekomendasi untuk Kepala Perpustakaan Sekolah

Menurut saya, diklat 12 hari yang diberikan PNRI memberikan kenyamanan untuk tempat tinggal kami di Rivoli Hotel, di Jakarta Pusat. Dekat dengan Monas, Katedral Jakarta, atau pun mall tempat di mana teman-teman peserta diklat bisa melepas lelah.

Adapun, untuk teman-teman yang sama sekali belum memiliki latar belakang Ilmu Perpustakaan, tentu ada sedikit kesulitan mengikuti keseluruhan materi yang disajikan kilat selama 12 hari.

Terlebih, untuk materi klasifikasi. Kami saja di bangku kuliah dulu, perlu belajar 2 semester untuk mata kuliah klasifikasi. Bandingkan dengan diklat KPS X yang cuma dalam hitungan jam belajar klasifikasi, bapak/ibu guru tentu megap-megap. Oleh karena itu, sangatlah penting jika PNRI dapat menambahkan waktu belajar klasifikasi dan memberikan buku klasifikasi/Dewey Decimal Classification (DDC) dalam bahasa Indonesia kepada peserta yang lulus dari tes akhir KPS X. Karena menurut saya DDC online tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan klasifikasi di perpustakaan.

Jika Pegiat Literasi ada yang kebetulan bekerja sebagai pustakawan, dapat mengikuti diklat ini atau pun diklat lain yang diberikan PNRI. Pegiat Literasi dapat langsung menuju link di sini . Diklat KPS ini sangat baik sekali diikuti bagi mereka yang belum pernah mengikuti pelatihan mengenai mengelola perpustakaan.

Untuk mereka yang pernah punya pengalaman atau memang berlatar belakang Ilmu Perpustakaan, tetaplah semangat mengikuti diklat ini. Diklat Kepala Perpustakaan Sekolah bisa ‘memanaskan’ kembali mesin otak kita, dan merupakan sarana tukar pikiran dengan teman-teman peserta lainnya. Pegiat Literasi juga nanti dapat berkenalan dengan pakar ilmu perpustakaan yang hadir sebagai pemateri. Kemudian bisa bertanya dan meminta solusi dari mereka.

Persyaratan Mendaftar Diklat KPS

Tertarik ingin ikut mendaftar? Berikut adalah persyaratan peserta untuk mengikuti Diklat Kepala Perpustakaan Sekolah dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia:

  1. Berijazah minimal DIV/S1 dengan menyerahkan foto copy ijazah terakhir dan surat keputusan SK PNS terakhir, jika PNS;
  2. Menyerahkan foto copy SK Pengangkatan sebagai Kepala Perpustakaan Sekolah;
  3. Berbadan sehat yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Dokter dan bagi peserta Wanita tidak dalam keadaan hamil;
  4. Membawa kartu Askes/BPJS asli;
  5. Mengirimkan foto terbaru 4×6 cm (latar belakang warna merah)
  6. Mengisi Daftar Riwayat Hidup dan Surat Pernyataan yang ditandatangani oleh atasan langsung (terlampir);
  7. Menyerahkan Surat Tugas dari pejabat yang berwenang
  8. Peserta diklat yang tidak hadir pada acara pembukaan diklat dinyatakan mengundurkan diri.

Selamat mencoba!

1
Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] saya mengucapkan terima kasih atas inspirasi yang saya peroleh dari Mengikuti Diklat Kepala Perpustakaan Sekolah yang memancing ide kreatif untuk pelaksanaan Pekan Buku, Literasi dan Perpustakaan di tempat saya […]

%d blogger menyukai ini: